Overview

Salah satu mesin penumbuk bijih emas masa belanda tersebut, dapat dijumpai di pesisir pantai wisata Lakban, dekat Teluk Buyat Kecamatan Ratatotok, Minahasa Tenggara, dengan ketinggian 18 Mdpl serta koordinat LU 00° 50′ 54,6″ – BT 124° 42′ 29,8″.  Keberadaan mesin tersebut di lokasi wisata pantai Lakban, berasal dari salah satu kawasan pembangunan mesin penumbuk bijih besi di tepi pantai Ratatotok masa Belanda, kemudian dipindahkan tahun 2010 oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Kabupaten Minahasa Tenggara, dan PT. Newmont Minahasa Raya ke tempat sekarang untuk dijadikan sebuah objek wisata open site museum di pantai Lakban, dengan pengelolaan dan pemanfaatan pariwisata oleh Pemerintah Kabupaten Minahasa Tenggara.

Pembukaan kawasan tambang emas Mesel di Gunung Tottik daerah Ratatotok, Minahasa Tenggara (dulu Minahasa Selatan), berdasarkan laporan yang disusun pada jaman Belanda oleh Mesdag tahun 1914 telah dilakukan oleh penduduk yang berasal dari sekitar Bolaang Mongondow (Garwin, 1994 dalam Suprapto : 6), kemudian Belanda menemukan daerah tambang tersebut sekitar 1898 dengan mendapati lorong bawah tanah yang sempit dan panjang serta dikembangkan dengan teknik peledakan. Penggunaan mesin penumbuk bijih emas mulai dibangun Belanda sebanyak 20 buah pada tahun 1900 di dekat pantai, dengan sarana pengangkutan menggunakan lori. Pada tahun 1910 Belanda menambahkan menjadi 60 buah mesin penumbuk bijih emas serta tercatat total produksi mencapai 5.060 kg emas (Van der Ploeg, 1945, dalam Garwin, 1994) yang di tambang di antara tahun 1900 dan 1921 dari sebagian endapan eluvial (Suprapto, 6).

Details

Page Views

Google Nearby Places

Be the first to review “Mesin ex Penumbuk Biji Emas”

Rating