Overview
| Menurut maestro Bahasa Pasan Ratahan di mulai pada abad ke 16.
Asal-Usul Bahasa Ratahan. Menurut DR. F. SUALANG, M.TH dalam bukunya pada Tahun 2010 di tuliskan bahwa salah satu sumber yang banyak disepakati bahwa orang Ratahan berasal dari Sulawesi Tengah, di teluk Tomini. Pendaratan mereka di sekitar Bentenan, yang kemudian menjadi salah satu pelabuhan di Minahasa. Bahasa yang di gunakan pada waktu itu menurut literature tua adalah bahasa Bentenan. Rupanya orang Bentenan punya kebudayaan yang cukup tinggi, yang di buktikan dengan adanya tenunan kain yang di hasilkan yang di namakan kain Bentenan. Entah karena alasan apa sebagian orang Bentenan pindah ke lokasi lain, yaitu antara Tatengesan dan Wiau, di sebelah Timur Wioy yang kemudian di kenal dengan lokasi Wanua Kaangan (yang artinya negeri tua). Dari sana mereka pindah ke sekitar Wioy, dan dari sana mereka beralih ke lokasi lain di mana terletak kota Ratahan sekarang. Menurut cerita bahwa mereka yang baru menempati lokasi itu ingin mengetahui nama yang tepat untuk lokasi pemukiman baru itu.ketika seorang yang membawa ayam jantan mengeluarkan ayamnya, ayam itu berkokok yang kedengarannya seperti bicara “dataan” dan dari tiruan bunyi itu lokasi pemukiman itu di namakan Ratahan. Nama Ratahan kemudian menjadi ibu kecamatan (dulu onder-district) Pasan Ratahan-Ponosakan. Orang Ratahan di namakan juga orang Toratan. Dengan demikianbahasa Bentenan beralih nama menjadi bahasa Ratahan atau tingi Toratan.
“Orang Pasan” rupanya ada dua kelompok yang berasal dari daerah yang sama, yaitu selain yang berlabu di Bentenan, ada kelompok yang berlabu di Watulinay. Atau mungkin juga ada yang sudah di Bentenan lalu pindah dengan perahu-perahu dan berlabuh di Watulinay. Setelah lama di Watulinay, sebagian pindah ke lokasi baru yaitu di Wawali, dan sebagian pindah ke Towuntu. Kata Towuntu berasal dari ucapan “nginto na wuntu” yang artinya yang tinggal banyak orang di satu tempat. Menurut A. Kolinug bahwa mereka yang tinggal di Towuntu itu, yang di namakan sebagai orang Pasan. Lebih tepat di katakan bahwa orang Pasan adalah yang tinggal di Watulinay, Wawali, Towuntu, Liwutung, Tolombukan, Molompar (sebagian), Wiau.
“Orang Pasan-Ratahan” istilah ini di gunakan di peta Minahasa Tahun empat puluhan bahwa nama onder-district (sekarang kecamatan) Ratahan adalah Pasan-Ratahan-Ponosakan di mana orang Ponosakan adalah mereka yang tinggal di Tababo, Belang, sedang orang Pasan adalah mereka yang tingga di Watulinay, Wawali, Towuntu, Liwuutung, Tolombukan, Molompar (dulu molompar masuk dalam onder-ditrict Ratahan) Wiau, sedan orang Ratahan adalah mereka yang tinggal di Tosuraya, Lowu, Pangu, Wioy, Minanga, Tatengesan, Bentenan, Wongkay, Rasi. Tetapi di generasi sekarang lebih menyukai kesatuan nama anak suku Pasan dan Ratahan itub menjadi anak suku Pasan.
Bahasa Ratahan adalah salah satu bahasa daerah di Sulawesi Utara, khususnya sekarang di daerah Mianahasa Tenggara yang terancam akan punah karena pemakainnya sisa sebagian kecil dari orang Ratahan (Pasan-Toratan) dan itupun kebanyakan hanya mereka yang sudah berumur di atas 50 tahun. Penyebabnya karna bahasa Ratahan di anggap sukar dan belum di bahas secara sistematis yang disebarkan secara luas. Tulisan yang banyak di kenal hanya buku yang di tulis orang tua kita, A. Kolinug, seorang guru pension yang berasal dari Wioy. Bukunya adalah Kamus Bahasa-Ratahan-Indonesia dan Indonesia-Ratahan. Namun dengan berbekal kamus ini saja, sulit orang menguasai bahasa Ratahan apalagi tak pernah mendengar orang berbahasa Ratahan dengan baik. Sebenarnya idealnya bahwa selain bahasa Melayu Manado yang di gunakan sebagai bahasa ibu, sebaiknya orang Ratahan menggunakan juga bahasa Ratahan sebagai bahasa ibu. Sebagai teladan yang baik adalah orang Gorontalo. Kelemahan kita karena “ibu” yang seharusnya menanamkan bahasa Ratahan kepada anakknya, justru semakin berkurang. Selain dari itu semangat untuk berbahasa Ratahan yang kini sudah sangat tipis, atau sudah hamper tidak ada lagi. Dan apa yang terasa di masa penulis masih kecil/remaja, bahasa Ratahan di anggap bahasa kalangan terbelakang, sehingga mereka yang mulai merasa maju sudah malu berbahasa Ratahan. |
