Overview

Para pendahulu, yakni Raranta, memiliki seorang istri bernama Keke. Dari pernikahan tersebut lahirlah seorang anak perempuan yang diberi nama Uwurandan. Ketika Uwurandan berusia 16 tahun, Raranta jatuh sakit. Sebelum wafat, ia berpesan kepada adiknya, Wawolohor, serta kepada para Bogani (pengawal), agar menjaga dan melindungi putrinya. Namun setelah mendengar pesan tersebut, Uwurandan justru melarikan diri ke dalam hutan. Peristiwa itu terdengar hingga kepada para leluhur, dewa-dewa penjaga Gunung Soputan. Akibat kejadian tersebut, para Bogani mengalami mimpi bahwa tempat tinggal mereka akan ditimpa bahaya atau malapetaka. Tak lama kemudian, dewa-dewa memberi petunjuk agar mereka segera meninggalkan wilayah itu. Mereka pun bermigrasi ke wilayah selatan Minahasa, yang dahulu merupakan hutan Pontak dan kini dikenal sebagai Desa Pontak.

Suatu ketika, para Bogani terserang wabah penyakit. Mereka kembali berpindah tempat ke arah Motombatu, yang sekarang dikenal sebagai Tombatu. Perpindahan tersebut membuat mereka memasuki wilayah kekuasaan sekaligus menjadi bawahan pimpinan Datu Tumimbongol. Tidak lama berselang, Datu Tumimbongol bersama saudara-saudaranya berpindah lagi ke suatu tempat bernama Wutong-Wutong (kini Liwutung). Dari Wutong-Wutong, mereka terbagi ke dalam beberapa kelompok (Hulu Kaum) dan mendirikan perkampungan, di antaranya: Negeri Lama (Ponosakan), Kalambanga, Wutong-Wutong, Tawawo, dan Pinilik. Kelompok yang menetap di Negeri Lama mengangkat Dotu Lulik sebagai pemimpin. Sementara itu, Tumimbongol dan saudara-saudaranya tinggal bersama Kepala Suku Ponosakan. Mereka gemar berburu dan menjala ikan dalam jumlah besar. Ikan hasil tangkapan diangkat menggunakan pakaian mereka, kemudian diletakkan dalam wadah dan pakaian tersebut dikibas-kibaskan. Dari kebiasaan inilah muncul istilah “Pinonangsakan” yang kemudian dikenal sebagai Ponosakan.

Perjalanan Datu Tumimbongol berlanjut ke wilayah bernama Muntoy. Dalam aktivitas perburuannya di daerah tersebut, terjadi banjir besar akibat letusan Gunung Soputan. Karena kondisi itu, Tumimbongol memutuskan untuk membagi wilayah perburuan sebagai berikut:

Bagian Utara Muntoy:

1.     Wunong (air yang terkurung di tepi laut)

2.     Ginoparia (air yang menyebar luas di daratan)

Bagian Selatan Muntoy:

1.     Parung (wilayah di bawah/tandus)

2.     Binuang (wilayah dengan pohon besar)

Pembagian wilayah berburu ditetapkan sebagai berikut:

1.     Ginoparia untuk Wumbuan

2.     Wunong untuk Ralo dan Angkeleanda

3.     Binuang untuk Tumimbongol

4.     Parung untuk Datu Binangkang

Namun, dalam pembagian wilayah tersebut, Datu Binangkang menyampaikan keberatan karena wilayah Parung yang tandus dianggap sulit menghasilkan buruan. Dari situlah terjadi pertarungan atau uji kesaktian antara Datu Tumimbongol dan Datu Binangkang. Keduanya melakukan perjalanan yang sarat ujian dan rintangan. Dalam perjalanan itu, mereka mengalami kecelakaan hingga perahu yang mereka gunakan pecah. Mereka kemudian terdampar di tepi Pantai Goloda. Pecahan-pecahan perahu tersebut mereka sebut “Sinowelang” atau “Welang”, yang kini dikenal sebagai Belang.

JUMLAH KOSA KATA BAHASA PONOSAKAN

Berdasarkan Kamus Dwibahasa Indonesia – Ponosakan yang diprakarsai oleh Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Utara, Bahasa Ponosakan memuat 1.300  kosa kata entri dan subentri yang disusun padanan leksikal antara Bahasa Indonesia dan Bahasa Ponosakan.

Adapun dalam penggunaan Bahasa Ponosakan tidak terdapat tingkatan bahasa yang memengaruhi dasar komunikasi. Perbedaan biasanya hanya terlihat pada intonasi saat berbicara. Ketika berbicara dengan orang yang lebih tua, intonasi cenderung lebih lembut dan pelan sebagai bentuk penghormatan. Sementara itu, saat berbicara dengan teman sebaya, intonasi yang digunakan umumnya lebih datar atau kadang sedikit lebih tinggi.

Details

Page Views

Google Nearby Places

Be the first to review “Bahasa Ponosakan”

Rating