Overview
| Orang-orang yang mendiami daerah ini sejak purbakala merupakan suatu kelompok masyarakat, yang diberi nama seperti: To-u-nda-now, Ton-sa-wang, To-oen-sawah, To-un-si-ngin, To-un-si-ni, Tou-le-wo, To-un-da.
To-u-nda-now adalah, yang dipakai dalam pergaulan oleh orang-orang berasal dari daerah ini, bilamana mereka bertemu dan menyapa satu dengan yang lain. Maka masing-masing mengisyaratkan bahwa ia To-u-nda-now, artinya bahwa ia berasal dari daerah tersebut. Pengertian selanjutnya, itu berasal dari kata majemuk ialah To, yang artinya orang, u, artinya dari dan ndanow (dano) artinya air. Sehingga arti aslinya adalah orang air, sebab zaman purba sebelum danau besar itu dikeringkan oleh Lelemboto, orang-orang berdiam berkelompok dipinggir-pinggir atau di tengah danau (pulau) di atas bukit-bukit yang kini terlihat di beberapa tempat di daratan To-u-nda-now. Ujung-ujung larutan bukit-bukit (tanjung-tanjung) yang agak tinggi, konon merupakan hubungan lalulintas kelompok satu dengan yang lain, dengan memakai rakit atau perahu dikala itu. Tonsawang adalah nama resmi pemerintah. Di zaman penanda tanganan surat kontrak wakil Belanda, Gubernur Ternate R. Padt Brugge, dengan kepala-kepala negeri Minahasa dan Kepala Daerah Manado pada tgl 10 Januari 1679 di Manado, maka diantara nama-nama daerah ada tercantum Tonsaban, yang sangat mungki dimaksudkan Tonsawang. Mungkin pula nama ini ditetapkan berdasarkan keterangan orang-orang di luar daerah ini, yang mendapatkan bahwa orang di daerah ini banyak berdiam di pinggir-pinggir danau atau rawa-rawa. Perkembangan-perkembangan dalam kehidupan dan pergaulan oleh kecerdasan yang semakin meningkat dengan masyarakat daerah yang lain, nampaknya generasi dewasa ini merasa asing menggunakan tutur bahasa dan nama To-u-nda-now. Penulis Riedel menerangkan dalam bukunya “De Minahasa in 1825“ hal. 495, bahwa orang dari daerah biasa memakan ular atau pemakan ular (to-oen-sa-wa). Ular dari jenis manakah tidak dijelaskan. Keadaan daerah To-u-nda-now berabat-abat yang lalu sekiranya dapat membenarkan ucapan penulis tersebut. Rawa-rawa dipinggir danau dikala itu ditumbuhi sangat lebat dengan tumbuhan-tumbuhan rawa. Lebih-lebih sejenis rumput yang berbatang seperti tebu (gelagah) dan bertumbuh lebat. Kelebatan ini menjadi sarang-sarang ular patola (tipego), yang biasa ditangkap dan dagingnya sangat digemari. Selain itu danau berisi ikan sogili (belut), yang besarnya sering mencapai sebatang pohon pinang, juga ditangkap dan dimakan dan dagingnya memang enak. Bila ikan ini dilepaskan di darat, ia bergeletak dan merayap-rayap seperti seekor ular. To-oen-singin atau Ton-si-ni adalah nama yang berpautan satu dengan yang lain. Yang pertama itu diucapkan oleh orang-orang secara sinis, yang mendiami daerah-daerah sebelah barat laut, utara, timur karena dianggap masih sangat terkebelakang, tidak tahu berpakaian, bergaul dan sebagainya, sehingga mereka menjauhi orang-orang dari masyarakat ini. Penginjil Miersma, yang berkedudukan di Ratahan, dalam pertengahan abad yang lalu kira-kira pada tahun 1870 dan kemudian dari itu, telah pula menjelajahi daerah ini dan memberikan nama kepada masyarakat ini “Ton-si-ni” yang artinya pemakan ular. Tentulah beliau membenarkan pendapat orang-orang yang berpendapat demikian. Pada perkunjungannya di daerah ini siapa tahu, apa bila ia dijamu, disajikan juga ikan sogili (belut) atau ikan ular patola (tipego). Tou-le-wo artinya jahat. Menurut Riedel, Toensawah artinya juga jahat bukan keji (ondeugend), tetapi nakal. Pengertian dalam tutur bahasa “to-oen-boe-loeh, to-oen-sa-wah artinya pemakan ular. Demikian kata To-oe-le-wo dalam arti jahat (ondeugend). Kata ini diucapkan orang-orang dari luar daerah ini, yang sering pergi berburu di hutan-hutan di daerah To-u—nda-now. Pada hakekatnya adalah akibat dari pada perbuatan-perbuatan pemburu juga dari daerah ini, yang pergi berburu mencari di hutan yang sama, dimana mereka menemukan jerat-jerat tikus atau babi hutan serta pndok-pondok mereka itu, lalu merusak dan membakarnya. Pemburu-pemburu ini hanya memakai cawat dan bersenjatakan tumbak. “To-u-nda” diucapkan oleh orang-orang yang mendiami daerah selatan (Bolaang Mongondow) yang di zaman dahulu kala banyak mengalami penyerangan-penyerangan hulubalang-hulubalang (penotohan) To-u-nda-now yang sampai-sampai dapat membunuh hulubalang-hulubalangnya. “To-u-nda” artinya pemakan orang, jelasnya pembunuh. Keterangan selanjutnya dari Riedel, bahwa dahulu kala orang-orang To-oen-sa-wah dinamai juga To-oensi-ni dan kemudian To-oe-mba-tu. Nama To-oen-sa-wah yang artinya “nakal” dipilih penulis tersebut karena justru masyarakat ini sajalah biasa “memakan ular” kebiasaan mana tidak terdapat dilain-lain daerah (pakasaan). Inilah kiranya menjadikan orang-orang To-oen-si-ni nakal dan sering memamerkan perbuatan-perbuatan yang tidak ada tandingannya dimasyarakat lainnya, yang menakut-takutinya dengan ular. |



