Kain Bentenan
Overview
Kain bentenan adalah kain khas Minahasa yang terbuat dari bahan alami, seperti serat kulit kayu dari pohon Sawukkouw dan Lahendong. Kain bentenan termasuk kain yang sakral dan langka. Dikatakan sakral, karena kain ini hanya digunakan oleh kalangan tertentu pada waktu tertentu. Produksi kain tradisional bentenan hampir punah, hanya beberapa keluarga saja yang masih mewarisi teknik pembuatan kain bentenan di Minahasa Tenggara. Kain Bentenan memiliki tujuh motif utama yaitu,
- Kokerah
Nama motif ini berasal dari kata “Kakeda” yang artinya merupakan benda yang memancarkan
kilau/ cahaya putih seperti kerlip manik-manik dan kunang-kunang
- Ka’iwu Patola
Nama motif ini terdiri atas dua kata yaitu “Ka’iwu” yang berarti kain tenun, dan “Patola” yang berarti kain sutera India.Jadi kain ini merupakan kain yang ditenun dengan motif yang meniru motif kain patola asal India.Motif kain ini berbentuk bintang dan kotak-kotak, persegi panjang dan bergerigi.
- Tinonton Mata
Nama motif ini berasal dari kata tinauan untou diambil dari kata dasar tou yang dalam bahasa ratahan disebut toumatayang berarti orang atau manusia. Tinonton mata berarti diberi motif manusia. Kain motif ini adalah kain dengan motif gambar manusia berkelamin laki-laki dengan satu titik di tubuh sebagai simbol alat kelamin laki-laki, dan gambar wanita dengan tiga titik yang merupakan simbol satu titik adalah pusar dan dua titik adalah payudara.
- Tinompak
Nama motif kain ini berasal dari kata “tinopa” yang berarti telapak kaki, dalam hal ini dilihat
dari bentuknya seperti bekas telapak kaki kuda.
- Pinatikan
Nama motif ini berasal dari kata pantik yang berarti titik – titik dan garis – garis kecil dan motif bunga – bunga kecil. Dalam tulisan Ritta Bolland dikatakan bahwa pinatikan berasal dari bahasa Bentenan yang berarti yang ditulisi yang berasal dari kata mamatik atau menulis. Pengertian ini dikaitkan dengan cara pengerjaannya karena menggunakan pola dari kertas yang ditulisi dengan tinta untuk membentuk ragam hiasnya
- Sinoi atau Sinei
Sinoi berasal dari kata rei, dei’ – zei’ yang berarti tidak, hal ini berhubungan dengan tenunan kain ini yang ditenun tanpa motif. Bentuknya kain panjang seperti pelangi berfungsi sebagai kain ikat.
- Tonilama
Tonilama berasal dari kata lamek yang berarti tanpa titik, tanpa garis seperti permukaan daun muda pohon enau. Nama motif ini dari bentuknya bisa diartikan dengan satu warna. Tonilama berwarna putih polos yang tidak diberi pewarna apapun, tetapi warna aslinya dari warna kapas atau oleh orang Minahasa disebut kulo.
Kain tenun bentenan asli saat ini hanya tersisa 28 lembar di seluruh dunia yang tersimpan di Museum Nasional Jakarta, Tropenmuseum Amsterdam, Museum voor Land-en Volkenkunde Rotterdam, Museum fur Völkerkunde Frankfurt-am-Main Jerman, Ethnographical Museum Dresden, dan Indonesisch Etnografisch Museum.
Fungsi
Kain bentenan pada masa lalu merupakan kain yang digunakan sebagai pakaian para pemimpin adat (Tonaas) dan pemimpin agama (Walian) dalam berbagai upacara adat, seperti upacara membangun rumah, menentukan masa tanam, sampai berperang. Kain ini juga digunakan dalam berbagai upacara daur hidup sebagai kain pembungkus bayi yang baru lahir, bagian dari upacara pernikahan, juga pembungkus jenazah bagi kalangan tertentu. Dalam upacara tersebut, Walian dan Tonaas akan memohon perlindungan pada Opo-Opo (dewa) dengan membaca mantra khusus. Kain tenun sampai saat ini masih digunakan sebagai kebutuhan adat, seperti upacara dan siklus kehidupan oleh Masyarakat Minahasa, serta kain ini berfungsi praktis digunakan sebagai selendang, sarung, selimut, hingga pakaian. Kain bentenan ada yang diproduksi dalam bentuk print oleh Yayasan Kreasi Masyarakat Sulawesi Utara (Karema), dimana kain yang diproduksi merupakan hasil kreasi dan modifikasi tanpa mengubah motif asli kain Bentenan itu sendiri. Hal ini dengan maksud bahwa kain Bentenan yang ada sekarang diproduksi dalam jumlah yang banyak, tanpa memakan waktu yang lama, dapat dipakai oleh semua kalangan, tanpa meninggalkan nilai estetika dan makna yang terkandung dalam motif asli kain itu sendiri yang berkaitan erat dengan filosofi masyarakat Minahasa sejak dahulu.
Kain Bentenan pada masa lalu ditenun dengan teknik dobel ikat, dimana benang yang membentuk lebar kain (pakan) disebut Sa’lange dan benang yang memanjang (lungsi) disebut Wasa’lene. Teknik dobel ikat ini adalah teknik tenun ikat dengan tingkat kesulitan yang tinggi dan sangat jarang digunakan di daerah lain dimana tekniknya dimulai dari pemintalan benang, pengikatan dan pewarnaan benang, lalu penjemuran. Motif yang tercipta dalam pembuatan kain bentenan akan bergambar halus, rumit, dan sangat unik. Kain Bentenan ditenun tanpa terputus, sehingga menghasilkan sebuah kain berbentuk silinder atau tabung. Adapun tahap pembuatan kain bentenan adalah sebagai berikut:
- Proses pembuatan benang atau disebut “ngeteng” yang berarti memutar benang di plangkan
- Mengikat benang dengan tali sesuai dengan motif/pola
- Melakukan pewarnaan dengan pencelupan benang pada pewarna
- Melakukan pengeringan benang dengan sinar matahari
- Merambang, yaitu memisahkan atau mengatu motif dengan yang polos
- Ngebum atau proses memadatkan benang-benang di gulungan asbum
Bahan yang digunakan untuk membuat tenun adalah benang katun dan pewarna. Saat ini teknik pembuatan kain bentenan selain dikerjakan secara tradisional, cenderung banyak dikerjakan dengan mesin (print). Motif cetak atau print dianggap lebih mudah dan cepat untuk diterapkan pada kain, namun tidak menghilangkan nilai dan makna pada kain itu tersendiri.



